Kamis, 21 November 2013
WIRID DZIKIR SETELAH SHOLAT
WIRID DZIKIR SETELAH SHOLAT
Sedikit Berbagi Amalan WIRID, DZIKIR Setelah Sholat..
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Didalam shahih muslim diriwayatkan beberapa hadits yang berisi tentang
dzikir setelah shalat fardhu. Dzikir atau bacaan yang biasa dibaca
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam ialah:
أَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ الَّذِي لآ إِلَهَ إِلَّا هُوَ اْلحَيُّ اْلقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ.
ASTAGHFIRULLOHAL'ADZHIIM ALLADZII LA ILAHA ILLAHUWAL'HAYYUL QOYYUWM WAATUWBU ILAIH.
لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ اْلمُلْكَ
وَلَهُ اْلحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
LA ILAHA ILLALLOHU WA'HDAHULA SYARIIKALAH, LAHULMULKA WALAHUL'HAMDU YU'HYII WAYUMIITU WAHUWA 'ALAKULLI SYAI'INQODIIR.
اَللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلاَ يَنْفَعُ ذَا اْلجَدِّ مِنْكَ اْلجَدُّ.
ALLOHUMMA LA MA NI'ALIMA A'THOIT, WALA MU'THIYA LIMA MANA'TA WALA YANFA'UDZAL JADDI MINKALJADD.
اَللَّهُمَّ أَجِرْنَا مِنَ النَّارِ.
ALLOHUMMA AJIRNA MINANNAR.
اَللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ وَإِلَيْكَ يَعُوْدُ
السَّلاَمُ، فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلاَمُ وَأَدْخِلْنَا اْلجَنَّةَ
دَارَ السَّلاَمِ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ يَا ذَاالْجَلاَلِ
وَاْلإِكْرَامِ.
ALLOHUMMA ANTASSALAMU WA MINKASSALAMU WA ILAIKA
YA'UWDUSSALAM, FA'HAYYINA ROBBANA BISSALAMU WA ADKHILNALJANNATA
DAROSSALAMI TABAROKTA ROBBANA WA TA'ALAITA YADZALJALALI WAL IKROM.
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ.
A'UUDZU BILLAHIMINASYSYAITHONIRROJIIM.
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ .
BISMILLAHIRRO'HMANIRRO'HIIM.
الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ مَالِكِ
يَوْمِ الدِّيْنِ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ اهْدِنَا
الصِّرَاطَ اْلمُسْتَقِيْمَ صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ
غَيْرِ اْلمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَآلِّيْنَ. آمِيْنَ.
AL'HAMDULILLAHIROBBIL'AaLAMIiN
- ARRO'HMANIRRO'HIM - MALIKI YAWMIDDIiN - IYYAKA NA'BUDU WA IYYAKA
NASTA'IiN - IHDINASHSHIROTHOLMUSTAQIiM - SHIROTHOLLADZIiNA - AN'AMTA
'ALAIHIM - GHOIRILMAGH-DHUuBI 'ALAIHIM WALA_DHO_LLIiN(a) - AaMIiN.
وَإِلَهُكُمْ إَلَهٌ وَاحِدٌ لاَ إِلَهَ إِلَّا هُوَ اْلحَيُّ
اْلقَيُّوْمُ، لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَهُ مَا فِي
السَّمَوَاتِ وَمَا فِي اْلأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهُ
إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ
وَلاَ يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَآءَ وَسِعَ
كُرْسِيُّه ُالسَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ وَلاَ يَؤُوْدُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ
اْلعَلِيُّ اْلعَظِيْمُ.
WA ILAHUKUM ALAHU WA 'HIDU LAILAHA
ILLAHUWAL'HAYYULQOYYUuM, LATA'KHUDZUHU SINATU WALANAUM
LAHUMAFIiSSAMAWATI WAMAFIiL ARDH MANDZALLADZIi YASY-FA'U INDAHU
ILLABIIDZNIH YA'LAMUMA BAINA AIDIiHIM WAMA KHOLFAHUM WALA YU'HIiTUuNA
BISYAi IN MIN ILMIHI ILLA BIMA SYA' WASI 'AKURSIYYUHUSSAMAWATI WAL ARDHI
WALA YA'UuDUHU 'HIFDZHUHUMA WAHUWAL'ALIYYUL'ADZHIiM.
قُـلْ هُـوَ اللهُ أَحَـدٌ ….. [ الإِخْـلاصْ ].
قُـلْ أَعـوذُ بِرَبِّ الفَلَـقِ….. [ الفَلَـقْ ].
قُـلْ أَعـوذُ بِرَبِّ النّـاسِ…..[ الـنّاس ].
إِلَهَنَا رَبَّنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا سُبْحَانَ اللهِ... سُبْحَانَ اللهِ (33 مرة).
ILAHANA ROBBANA ANTAMAULANA SUB'HANALLOH SUB'HANALLOH.
سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ دَائِمًا أَبَدًا اَلْحَمْدُ ِللهِ
... اَلْحَمْدُ ِللهِ (33 مرة).
SUB'HANALLOHI WABI'HAMDIHI DA 'IMAN ABADAN AL'HAMDULILLAH
AL'HAMDULILLAH...
اْلحَمْدُ ِللهِ عَلىَ كُلِّ حَالٍ وَفِي كُلِّ حَالٍ وَبِنِعْمَةِ يَا كَرِيْمُ
... اللهُ أَكْبَرُ (33 مرة).
AL'HAMDULILLAHI 'ALA KULLI'HALINN WAFIiKULLI'HALIN WABINI'MATI YAKARIiM ALLOHU AKBAR.
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَاْلحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ
بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ
لَهُ، لَهُ اْلمُلْكُ وَلَهُ اْلحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى
كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ
اْلعَلِيِّ اْلعَظِيْمِ.
ALLOHU AKBAR KABIiRON WAL'HAMDULILLAHI
KATSIiRON WASUB'HANALLOHI BUKROTAN WA ASHIiLAN, LAILAHA ILLALLOHU
WA'HDAHULASYARIiKALAH, LAHULMULKU WALAHUL'HAMDU YU'HYIi WAYUMIiTU WAHUWA
'ALAKULLI SYAi INQODIiR. WALA'HAWLA WALAQUWWATA ILLABI_LLAHIL
'ALIYYIL'ADZHIiM.
أَسْتَغْفِرُ اللهَ اْلعَظِيْمَ (ثلاث مرات)، إِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ.
ASTAGHFIRULLOHAL_'ADZHIIM(A), INNALLOHA GHOFUURURO'HIIM.
أَفْضَلُ الذِّكْرِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ.
AFDHOLUDZ-DZAKRI FA'LAM ANNAHU.
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ (...حي موجود).
LA ILAHA ILLALLOH.
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ (...حَيٌّ مَعْبُوْدٌ).
LA ILAHA ILLALLOH.
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ (...حَيٌّ بَاقٍ).
LA ILAHA ILLALLOH.
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ ... (33 مرة).
LA ILAHA ILLALLOH (33X)/100X
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ، كَلِمَةُ حَقٍّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوْتُ وَبِهَا
نُبْعَثُ إِنْ شَآءَ اللهُ مِنَ اْلآمِنِيْنَ.
LA ILAHA
ILLALLOHU MU'HAMMADUROSUULULLOHI SOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM,
KALIMATU'HAQQON 'ALAIHA NA'HYA WA 'ALAIHA NAMUUTU WA BIHA NAB'A-TSU
INSYA 'ALLOHU MINAL AMINIIN.
TUTUP DOA,, DOANYA BEBAS..
_Ashef Muhammad AL-ImaZMuda_
RAHASIA TERKABULNYA DOA KITA
RAHASIA TERKABULNYA DOA KITA
Dalam Alquran, Allah menjelaskan bahwa setiap doa kita pasti akan
dikabulkan oleh Allah SWT. Sebagaimana dijamin dalam firman-Nya yang
artinya,
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu
(Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan
permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah
mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka
memperoleh kebenaran". (QS. Al-Baqarah : 186)
Dalam ayat lain diperjelas,
"Dan Tuhan-mu berfirman, 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku
perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau
menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.'" (QS.
Al-Ghafir :60)
Tapi mengapa masih ada keraguan pada diri
kita.... agar tidak ragu bahwa doa kita dikabulkan oleh Allah SWT,
berikut lima rahasia doa kita terkabul:
1. Ikhlas
Allah
berfirman, "Maka, sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya,
meskipun orang-orang kafir tidak menyukainya." (Al-Mu'min : 14)
Dari ayat ini kita dianjurkan untuk memperbaiki niat ibadah dan hati
kita haruslah ikhlas. Jika hati kita semakin bersih dengan sesuatu yang
selain allah, seperti kepentingan dunia dan isinya, maka kita akan
semakin dekat dengan Allah. Jika semakin dekat dengan Allah, doa kita
pasti dikabulkan. Jika ingin doa kita dikabulkan energi yang kita pakai
untuk berdoa berasal dari makanan yang halal. Sebab Allah itu baik dan
hanya menerima sesuatu yang baik.
Dari Abi Hurairah ra berkata,
Rasulullah SAW bersabda: Wahai sekalian manusia!, sesungguhnya Allah
memerintahkan kepada orang-orang yang beriman apa yang di perintahkan
kepada rasul
2. Ikuti Sunah Rasul
Allah berfirman, "... Dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk." (Al-A'raf : 158)
Artinya, dalam berdo'a ikutilah cara Rasulullah berdoa yakni berdo'a
dengan suara yang lembut, berdo'a yang baik-baik, berdo'a saat sedang
sujud dan lain sebagainya
Selain berdo'a sesuai cara Nabi,
berdoalah dengan do'a yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Hati-hati
dengan doa yang mengada-ada dan tidak ada tuntutannya. Jika memang tidak
bisa berdo'a dengan bahasa arab atau asal bahasa arab tapi tidak tahu
dalil dan maksudnya, maka sebaiknya berdo'a dengan bahasa yang mudah di
pahami saja. Insya Allah semua itu dibenarkan.
3. Yakin Kepada Allah
Diantara hal yang bisa menumbuhkan kepercayaan seorang mukmin kepada
Rabbnya adalah dia mengetahui bahwa segala perbendaharaan kebajikan dan
keberkahan itu ada di sisi Allah.
Abu Hurairah ra., menuturkan
bahwa Nabi SAW bersabda: Berdoalah kalian kepada Allah dengan meyakini
bahwa Allah akan mengabulkan doa kalian.
4. Hati Khusyuk
Allah berfirman, "Sesungguhnya, mereka adalah orang-orang yang selalu
bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka
berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas, dan mereka adalah orang-orang
yang khusyuk kepada Kami."(QS. Al-Anbiya : 90)
Artinya, dalam
berdoa hati kita harus sambung dengan Allah. Kita berdoa benar-benar
tertata, dengan niat yang kuat, sungguh-sungguh dan penuh harap kepada
Allah SWT
Ketika berdoa hati kita hadir, hati menghadap kepada Allah
dengan penuh kekhusyuan dan ketenangan. Ketika berdoa kita harus yakin
kalau doa kita akan di kabulkan.
Dari Abu Hurairah ra berkata,
Rasulullah SAW bersabda: Berdoalah kepada Allah dan yakinlah bahwa doa
kalian dikabulkan oleh Allah, dan ketahuilah bahwa Allah tidak menerima
doa orang yang hatinya lalai dan lupa."
5. Niat Yang Kuat
Niat yang kuat, teguh pendirian, dan bersungguh-sungguh dalam berdoa
adalah kunci doa terkabul, Anas ra menuturkan bahwa Rasulullah SAW
bersabda: "Jika salah seorang dari kalian berdoa, hendaklah dia berdoa
dengan sungguh-sungguh dan janganlah dia mengucapkan, "YA Allah berilah
aku, jika Engkau mau." sebab tidak ada yang bisa memaksa Allah."
Rahasia Do’a 99% Mustajab
Tabihun – Do’a atau berdo’a tidak asing lagi bagi telinga kita. Hampir
semua agama dan kepercayaan mengajarkan kepada pengikutnya untuk
senantiasa bedo’a. sebab do’a adalah pengingat ketika keberhasilan dapat
diraih,maka kita sadar itu merupakan karunia Alloh, jika kegagalan yang
datang, maka do’a sebagai benteng dari putus asa, karena dari situ kita
tahu betapa lemahnya kita,tanpa pertolongan-Nya mustahil kita mampu
menjalani hidup ini.
Sebagian orang menggap do’a sebagai
“pesugihan” yang halal, mungkin Sahabat sudah mencari do’a manjur, do’a
paling mujarab, do’a paling ampuh, atau juga mendatangi tempat berdo’a
yang maqbul, mungkin juga sudah menyempatkan waktu untuk memasuki waktu
mustajabnya do’a.
Pernahkah kita merasa kalau do’a kita ditolak oleh Alloh?
Berbagai do’a sudah dilantunkan, bermacam cara bahkan tidak jarang kita
meluangkan waktu, mencari saat dan tempat yang konon mustajab untuk
berdo’a, namun semua itu nyaris tidak membawa hasil, bahkan yang lebih
tragis, nikmat yang kita harapkan malah laknat yang datang. Kehidupan
yang layak, rejeki yang melimpah, isteri/suami yang cantik/tampan,
kendaraan mewah selalu kita panjatkan agar itu berpihak pada kita, namun
bukannya mendekat, malah menjauh.
Rahasia do’a makbul
Setelah bertahun-tahun terombang-ambung diantara harapan dan putus asa,
kadang pertanyaan- pertanyaan datang bertubi-tubi. Kenapa Alloh masih
enggan mengabulkan do’aku? Apa salahku? Kurang apalagi? Puasa
sudah,berdo’a sudah,beramal sudah, tapi koq masih begini saja.
Ada 3 tahapan yang harus kita lakukan agar do’a kita maqbul, bahkan dijamin pasti insya Alloh manjur ;
1. Syukur
Mungkin kita bertanya, hidup saja susah apa yang mau disyukuri? Inilah kesalahan kita.
Coba kita renumgkan ! andai kita mempunyai anak, anak kita minta
mobil-mobilan, karena kita sayang kita kasih, tapi anak itu lupa membawa
pulang mainannya ketika bermain dengan kawan-kawannya. Hilanglah mainan
itu.
Keesokan harinya dia merengek minta dibelikan lagi,kita pun
membelikannya, dan kejadian pertama terulang lagi. Lantas jika anak kita
itu minta lagi apa jawab kita? Apa akan langsung membelikannya? Tentu
kita akan marah bukan?
Memang Alloh tidak seperti kita, namun
kita hendaknya tahu diri, bagaimana Alloh akan mengabulkan do’a kita
jika nikmat yang sudah ada saja tidak pernah disyukuri, ini namanya
tidak tahu berterima kasih.
Dan yang paling penting adalah ;
do’a itu bisa di ijabah atau ditolak oleh Alloh, tapi syukur pasti akan
diterima ( bagaimana syukur yang benar? akan dilanjutkan dalam tulisan
berikutnya , insya Alloh).
Jika kita bersyukur, maka Alloh akan
menambahi anugerah-Nya kepada kita tanpa kita minta sekalipun. Alloh
berfirman ; “Jika kamu menghitung-menghitung nikmat Allah, niscaya kamu
tidak akan dapat menentukan jumlahnya (menghitungnya). Sesungguhnya
Allah benar-benar Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang.” QS. An Nahl : 18.
2. Malu
Sepantasnya kita malu, mungkin kita tidak diberi harta lebih, tapi kita
masih diberi akal, tangan, kaki dan yang lebih penting kita masih
hidup, tapi kenikmatan2 itu sekan tidak berarti apa-apa bagi kita, kita
mendefinisikan nikmat itu hanya berupa harta,tahta,wanita.
3. Istighfar
Mohonlah ampun kepada Alloh, atas kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan dengan sebenar-benarnya.
Insya Alloh dengan di awali dan dilandasi 3 hal tersebut do’a kita akan
di kabulkan oleh Alloh. Dengan catatan semua itu dilakukan dengan benar
tanpa direkayasa & dawam.
_Ashef Muhammad AL-ImaZMuda_
DOA-DOA NABI MUHAMMAD SAW
DOA-DOA NABI MUHAMMAD SAW
Sahabat ASWAJA berikut adalah salah satu Doa-Doa Nabi MUHAMMAD SAW, msh
banyak sebenarnya tp gak mgkn ane posting semua satu persatu aja
kedepannya masih ada kok Insyalloh.. semoga Bermampaat.. suka Dan
bagikan semoga bisa jadi ladang amal buat kita semua AAMIIN..
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَلَّلهُمَّ اِنِّيْ اَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ كُلِّهِ، عَاجِلِهِ
وَاجِلِهِ، مَاعَلِمْتُ مِنْهُ، وَمَالَمْ اَعْلَمُ، وَاَعُوْذُ بِكَ مِنَ
الشَرِّ كُلِّهِ، عَاجِلِهِ وَاَجِلِهِ، مَاعَلِمْتُ مِنْهُ وَمَالَمْ
اَعْلَمُ
Ya, Allah berikanlah seluruh kebaikan kepadaku, yang
cepat atau lambat, baik yang ku ketahui atau tidak dan aku berindung
kepadamu dari seluruh keburukan, yang cepat atau lambat, baik yang aku
tahu atau tidak
اَلَّلهُمَّ اِنِّي اَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرٍ،
مَاسَأَلَكَ بِهِ عَبْدُكَ، وَنَبِيُّكَ، مُحَمَّدٌ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ، وَاَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَااسْتَعَاذَ بِهِ عَبْدُكَ،
وَنَبِيُّكَ، مُحَمَّدٍ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Ya Allah, berikanlah kebaikan kepadaku, apa saja yang telah diminta oleh hambamu, dan nabimu Muhammad Saw
اَلَّلهُمَّ اِنِّي اَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ، وَمَايُقَرِّبُنَا اِلَيْهِ
مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ، وَاَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ، وَمَا يُقَرِّبُنَا
اِلَيْهِ مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ، وَاَنْ تَجْعَلْ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ
اِلَيَّ خَيْرًا
Ya Allah jadikan aku sebagai penghuni surga,
dan segala yang mendekatkan ku pedanya dari perkataan dan perbuatan, dan
aku berlindung dari nerakamu, dan dari segala yang mendekatkanku
kepadanya, dari perkataan dan perbuatan, dan jadikanlah setiap ketetapan
yang engkau tetapkan kepadaku menjadi baik..
_Ashef Muhammad AL_IMaZMuda_
TAHLILAN, MAULID, SHOLAWATAN BACA YASIN BUAT MANYIT BUKAN BID'AH TAPI SUNAH
TAHLILAN, MAULID, SHOLAWATAN BACA YASIN BUAT MANYIT BUKAN BID'AH TAPI SUNAH
Membaca tahlil atau Surat Yasin sejatinya adalah berzikir; zikir yang
bertujuan mendoakan keluarga yang telah wafat. Hal itu bisa dilakukan
secara individual maupun berjamaah. Jika dilakukan secara individual,
maka kita bisa melakukannya kapan saja dan di mana saja. Jika dilakukan
secara berjamaah, tentu harus berkumpul di tempat khusus. Zikir yang
dilakukan secara bersama-sama, merupakan ibadah yang dianjurkan oleh
Islam. Rasulullah SAW bersabda:
لاَيَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُوْنَ
عَزَّوَجَلَّ إِلاَّحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ
الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ
فِيْمَنْ عِنْدَهُ (رواه مسلم)
Tidaklah berkumpul suatu kaum
sambil berzikir kepada Allah Swt, kecuali mereka akan dikelilingi oleh
para malaikat. Allah Swt. akan melimpahkan rahmat kepada mereka,
memberikan ketenangan hati, dan Allah akan memuji mereka di hadapan
makhluk yang ada di sisi-Nya. (HR. Muslim)
Imam as-Syafi’i ra.
menyatakan: “Sesungguhnya Allah Swt. telah memerintahkan hamba-hamba-Nya
untuk berdoa kepada-Nya, bahkan juga memerintahkan kepada Rasul-Nya.
Apabila Allah Swt. memperkenankan umat Islam mendoakan saudaranya yang
masih hidup, tentu diperbolehkan juga mendoakan saudaranya yang telah
wafat. Dan barokah doa tersebut Insya Allah akan sampai kepada yang
didoakan. Sebagaimana Allah Swt. Maha Kuasa memberi pahala kepada orang
yang hidup, Allah Swt. juga Maha Kuasa memberi manfaat doa kepada
mayit.” (Diriwayatkan al-Baihaqi dalam Manaqib al-Syafi’i, Juz I, hal.
430)
Dalam hadits riwayat Aisyah ra., Rasulullah saw. bersabda:
ما من ميت تصلي عليه أمة من المسلمين يبلغون مائة يشفعون له إلا شفعو فيه (صحيح مسلم)
Mayyit yang dishalati oleh seratus orang Muslimin sambil (berdoa)
memintakan ampun baginya, tentu permohonan mereka akan diterima. (HR.
Muslim, 1576)
Mendoakan keluarga, khususnya kedua orang tua
yang sudah wafat, merupakan anjuran agama. Karena orang yang sudah wafat
tidak bisa lagi berbuat kebajikan. Yang bisa ia harapkan hanya 3 hal,
yaitu shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang
selalu mendoakan atau bersedekah untuknya (al-hadits). Jika ilmu dan
harta tidak punya, maka doa anak-cuculah yang selalu ditunggu oleh ahli
kubur (kita semua calon ahli kubur, lhoo…).
Kita diajurkan
selalu mendoakan leluhur kita, yang wafatnya bukan disebabkan mati
syahid, karena mereka pasti akan menghadapi ujian berat di alam kubur.
Hal ini ditegaskan oleh banyak hadits Nabi SAW (akan dijelaskan di
belakang). Sedangkan orang yang mati syahid, mereka sudah “cukup” dengan
kesyahidannya. Pernah seorang shahabat bertanya kepada Rasulullah SAW,
kenapa hanya orang mati syahid yang terbebas dari ujian kubur?
Rasulullah SAW menjawab:
كفى ببارقة السيوف على رأسه فتنة
Cukuplah ujian orang yang mati syahid itu ketika ia menghadapi kilatan pedang (ujiannya saat berperang).
Sedangkan bagi orang kebanyakan yang tidak mati syahid, maka ujian dan
siksa kubur akan selalu menunggu. Sehingga wajar bila kita selalu
mendoakan mereka, baik lewat tahlil atau bacaan Surat Yasin, agar mereka
bisa menghadapi ujian di alam kubur dengan baik.
Hakikat Tahlil dan Yasiin
Secara bahasa, tahlil artinya membaca la ilaha illalLah. Istilah sudah
menjadi dialek orang Arab yang kemudian diindonesiakan. Karena itu, di
Indonesia, istilah tahlil digunakan untuk menunjukkan aktivitas doa yang
di dalamnya memuat bacaan la ilaha illalLah, yang ditujukan untuk orang
yang sudah wafat. Dari sini dapat dipahami, bahwa di dalam tahlil pasti
terdapat bacaan la ilaha illalLah dan zikir-zikir yang lain, termasuk
ayat-ayat al-Qur’an.
Tahlil yang biasa dibaca oleh kaum
Muslimin di Indonesia, khususnya kaum Nahdliyyin, merupakan kumpulan doa
yang diambil dari ayat-ayat Al-Qur’an, mulai dari Surat Al-Fatihah,
permulaan Surat al-Baqarah, hingga tiga surat terakhir (Al-Ikhlas,
al-Falaaq, dan an-Naas). Banyak sekali riwayat hadits yang menunjukkan
keutamaan bacaan-bacaan tersebut, yang tentu saja tidak cukup diurai
satu per-satu di sini.
Dari sini dapat ditarik benang merah,
bahwa redaksi tahlil tidak harus sama. Tidak ada tahlil tunggal yang
harus diikuti oleh semua orang. Setiap doa yang ditujukan untuk orang
yang sudah wafat, yang di dalamnya memuat la ilaha illalLah, semua itu
hakikatnya adalah tahlil. Maka, di setiap daerah, bacaan tahlil itu
tidak sama persis. Sebab, tujuan utama tahlil bukan lafadznya, bukan
redaksinya, melainkan doanya dan kandungan isinya.
Mengenai
pembacaan Surat Yasin, hal itu juga merupakan ibadah dan doa yang sangat
dianjurkan. Diriwayatkan oleh Ma’qil bin Yasar ra., bahwa Rasulullah
SAW bersabda:
ويس قلب القرأن لايقرؤها رجلٌ يريد الله تبارك وتعالى والدار الاخرة إلا غفرله, واقرؤها على موتاكم (مسندأحمد بن حنبل)
Surat Yasin adalah jantung Al-Qur’an. Tidaklah seseorang membacanya
dengan mengharap ridla Allah Swt, kecuali Allah Swt. akan mengampuni
dosa-dosanya. Maka bacalah Surta Yasin atas orang-orang yang telah
meninggal di antara kamu sekalian. (Musnad Ahmad ibn Hanbal, 1941)
Pembagian Waktu
Mengenai waktu untuk mendoakan, sebenarnya boleh dilakukan kapan saja
dan di mana, baik dilakukan secara individual maupun bersama-sama.
Sebab, seperti telah ditegaskan di muka, orang yang sudah wafat itu
mendapat ujian berat selama berada di alam kubur, menunggu hari kiamat
tiba. Dalam sebuah riwayat dikisahkan, saat terjadi gerhana matahari
pada masa Rasulullah SAW, beliau memimpin shalat gerhana. Dan ketika
sedang berkhutbah, beliau mengingatkan tentang beratnya ujian bagi orang
yang sudah wafat:
إن الناس يفتنون في قبورهم كفتنة الدجال. قالت عائشة وكنا نسمعه بعد ذلك يتعوذ من عذاب القبر
Sesungguhnya manusia itu diuji di dalam kuburan mereka, seperti ujian
Dajjal. Siti Aisyah menyatakan: Setelah itu kami mendengar beliau (Nabi)
memohon perlindungan dari siksa kubur. (As-Sunan al-Kubra li an-Nasa’i,
1/572. Lihat juga Tahdzib al-Atsar 2/591 dan Shahih Ibnu Hibban 7/81).
Menurut Syeikh al-Albani, hadits riwayat an-Nasa’i ini adalah hadits shahih, sehingga bisa dijadikan sandaran hukum.
Mengenai pilihan 7 hari, 40 hari, atau 100 hari untuk melakukan doa
bersama, hal itu karena mengikuti kebiasan para sahabat dan ulama
salafus shaleh. Imam Ahmad bin Hambal ra. menyatakan dalam kitab
az-Zuhd, sebagaimana dikutip oleh Jalaluddin as-Suyuthi dalam kitab
Al-Hawi li al-Fatawi dan ad-Durr al-Mantsur:
حدثنا هاشم بن
القاسم قال حدثنا الاشجعي عن سفيان قال: قال طاوس إن الموتى يفتنون في
قبورهم سبعا فكانوا يستحبون أن يطعموا عنهم تلك الآيام
Hasyim bin
Al-Qasim meriwayatkan kepada kami: Al-Asyja’i meriwayatkan kepada kami
dari Sufyan: Imam Thawus berkata : “Orang-orang yang meninggal dunia itu
mendapat ujian berat selama 7 hari di dalam kubur mereka. Maka kemudian
para ulama salaf menganjurkan bersedekah makanan untuk orang yang
meninggal dunia selama tujuh hari itu.” (Al-Hawi li al-Fatawi, juz II,
hal. 178 dan ad-Durr al-Mantsur 5/38)
Imam Ibnu Jarir at-Thabari mempertegas maksud hadits di atas sbb:
وأخرج ابن جرير في مصنفه عن الحارث بن أبي الحرث عن عبيد بن عمير قال :
يفتن رجلان : مؤمن ومنافق فأما المؤمن فيفتن سبعا, وأما المنافق فيقتن
أربعين صباحا
Ibnu Jarir meriwayatkan dalam Mushannafnya, dari
Ibnu Abi al-Harts, dari Ubaid ibn Umair, ia berkata: Yang diuji (di
dalam kubur) adalah dua orang, yakni orang mukmin dan munafik. Orang
mukmin diuji selama 7 hari, dan orang munafik diuji selama 40 hari
(ad-Durr al-Mantsur, 5/38).
Imam Suyuthi menandaskan bahwa:
“Tradisi bersedekah selama 7 hari merupakan kebiasaan yang telah berlaku
hingga sekarang (zaman Imam Suyuthi) di Mekah dan Madinah. Yang jelas,
kebiasaan itu tidak ditinggalkan sejak masa sahabat Nabi Saw. sampai
sekarang. Dan tradisi itu diambil dari ulama salaf sejak generasi
pertama (masa sahabat Nabi Saw)”.
Telah kita maklumi, kaum
Muslimin yang mengadakan tahlil atau Yasinan, juga bersedekah dengan
memberikan hidangan kepada para undangan. Pahala sedekah tersebut
ditujukan untuk keluarga mereka yang sudah wafat.
Sedangkan
istilah “haul” (peringatan satu tahunan setelah kematian) diambil dari
sebuah ungkapan yang berasal dari hadist Nabi Saw. dari al-Waqidi:
كان النبي ص.م يزور الشهداء باحد فى كل حول, واذا بلغ الشعب رفع صوته
فيقول :سلام عليكم بما صبرتم فنعم عقبى الدار ثم ابو بكر رضي الله عنه كل
حول يفعل مثل ذلك ثم عمربن الخطاب ثم عثمان بن عفان رضي الله عنهما (اخرخه
البيهقي)
Rasulullah saw. setiap haul (setahun sekali) berziarah
ke makam para syuhada’ Perang Uhud (tahun ke 3 H.). Ketika Nabi saw.
sampai di suatu tempat bernama Syi’b, beliau berseru: Semoga keselamatan
tercurahkan bagi kalian atas kesabaran kalian (para syudaha’). Alangkah
baiknya tempat kembali kalian di akhirat.” Kemudian Abu Bakar juga
melakukan seperti itu. Demikian juga Umar bin Khatthab ra. dan Utsman
bin Affan ra. (H.R. Baihaqi)
Kesimpulan
Dari sedikit
uraian di atas, tahlilan,maulid ,sholawatan,baca yasin buat mayit
hukumnya adalah sunnah (anjuran agama). Doa-doa tersebut telah menjadi
tradisi secara turun-temurun sejak masa Shahabat hingga sekarang. Doanya
tidak wajib sama, asalkan esensinya sama.
Mengenai tuduhan
SEBAGIAN kalangan bahwa tahlilan,maulid ,sholawatan,baca yasin buat
manyit tidak punya dasar dalam syariat, itu hanyalah perbedaan pendapat
yang sangat wajar terjadi dalam masalah-masalah furu’iyyah (hukum-hukum
cabang dalam syariat). Tidak perlu dipermasalahkan. Yang mau
tahlilan,maulid ,sholawatan,baca yasin dipersilahkan, yang tidak mau
tidak apa-apa. manfaat atau mudlaratnya kembali pada diri kita
masing-masing. Tapi kami yakin, kita semua pada dasarnya ingin didoakan
oleh keturunan kita, saat kita telah berada di alam kubur kelak.
Harapan kami, kalangan yang “anti tahlilan,maulid ,sholawatan,baca
yasin” itu tidak perlu menuduh bid’ah, kufur, apalagi syirik kepada umat
Islam yang suka tahlilan,maulid ,sholawatan,baca yasin. Sebab, dalam
sebuah hadits dinyatakan bahwa tuduhan kufur kepada sesama Muslim, jika
tidak benar, maka akibatnya akan menimpa pihak penuduh sebelum ia wafat.
Wal-‘iyadzu bilLaah.
_Ashef Muhammad AL-ImaZMuda_
ANJURAN DAN PERINTAH MENDOAKAN YANG SUDAH MENINGGAL DALAM AYAT AL-QURAN DAN HADITS
ANJURAN DAN PERINTAH MENDOAKAN YANG SUDAH MENINGGAL DALAM AYAT AL-QURAN DAN HADITS
Ada Sebuah hadits yang disebutkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan lainnya, dari Abu Sa’id bahwa Rasulullah SAW bersabda :
‘Sesungguhnya orang yang meninggal dunia itu mengetahui siapa yang
memandikannya, membawanya, mengkafaninya dan memasukkannya ke dalam
liang kubur.’
Abu Nu’aim dan
lainnya meriwayatkan dari Amr bin Dinar, ia berkata, ‘Setiap orang yang
meninggal dunia, maka ruhnya di tangan malaikat maut, ia melihat ke
jasadnya, bagaimana ia dimandikan, bagaimana ia dikafani dan bagaimana
ia dibawa. Dikatakan kepadanya ketika ia berada diatas pembaringannya,
“Dengarkanlah pujian orang banyak kepadamu.”Ibnu Abi Ad-Dunia
meriwayatkan makna yang sama dengan riwayat ini, ia meriwayatkan dari
beberapa periwayat dari Tabi’in, dengan redaksi, ‘Ditangan malaikat’,
tanpa ada tambahan lain.
Ruhnya Melihat,Menyaksikan betapa
begitu banyak umat muslim Hadir melihat kematiannya sampai ia memasuki
alam kubur.Ruhnya melihat begitu banyak orang yang mendokan dirinya dan
berharap allah menjadikannya dirinya sebagai seoarang hamba yang Dia
Cintai sebagaamana mereka mencintainya..
Allah Subhanahu wa Ta’alaa juga berfirman :
وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ
“dan mendo’alah untuk mereka, sesungguhnya do’a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka” (QS. at-Taubah : 104)
وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
“dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu’min, laki-laki dan perempuan” (QS. Muhammad 47 : 19)
Apa yang dilakukan segenap umat muslim mendokan Yang telah meninggal,
perbuatan para sahabat kaum anshor dan muhajirin sebagaimana Allah
Subhanahu wa Ta’alaa telah berfirman :
والذين جاءوا من بعدهم
يقولون ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا
غلا للذين آمنوا ربنا إنك رءوف رحيم
“Dan orang-orang yang datang
sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Rabb kami,
beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih
dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati
kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya
Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Hasyr 59 ; 10)
Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’alaa memberitahukan bahwa
orang-orang yang datang setelah para sahabat Muhajirin maupun Anshar
mendo’akan dan memohonkan ampun untuk saudara-saudaranya yang beriman
yang telah (wafat) mendahului mereka sampai hari qiamat.
Rasulullah bersabda :“ Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, maka baginya seperti pahala yang melakukannya” (HR. Muslim)
Betapa Indahnya sebuah kematian yang disertai Doa Ribuan Umat
muslim.dan itu menunjukkan kemuliaannya sebagai Ulama yang disayangi
segenap umat muslim.Tidak banyak orang mendapatkan anugrah cinta dan
kasih sayang yang begitu banyak dari umat muslim disaat kematian tiba.
SEJARAH BERDIRINYA AGAMA WAHABI (ALIRAN SESAT)
Sejarah berdirinya Agama Wahabi (aliran sesat wahabi)
Masih Banyak yang bertanya ama ane, Siapa WAHABI,? Sdh berulang-ulang
ane Bahas, tapi memang mash banyak yang belum tahu, yang belum tahu
silakan di baca dengan sesama
Sejarah berdirinya Agama Wahabi (yang mengaku aliran islam yang benar)
sesuai dengan asal usul dan sejarah perkembangannya semaksimal mungkin
berdasarkan berbagai sumber dan rujukan kitab-kitab yang dapat
dipertanggung-jawabkan, diantaranya, Fitnatul Wahabiyah karya Sayyid
Ahmad Zaini Dahlan, I?tirofatul Jasus AI-Injizy pengakuan Mr. Hempher,
Daulah Utsmaniyah dan Khulashatul Kalam karya Sayyid Ahmad Zaini Dahlan,
dan lain-lain.
Nama Aliran Wahabi ini diambil dari nama
pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahab (lahir di Najed tahun 1111 H / 1699
M). Asal mulanya dia adalah seorang pedagang yang sering berpindah dari
satu negara ke negara lain dan diantara negara yang pernah disinggahi
adalah Baghdad, Iran, India dan Syam. Kemudian pada tahun 1125 H / 1713
M, dia terpengaruh oleh seorang orientalis Inggris bernama Mr. Hempher
yang bekerja sebagai mata-mata Inggris di Timur Tengah. Sejak itulah dia
menjadi alat bagi Inggris untuk menyebarkan ajaran barunya. Inggris
memang telah berhasil mendirikan sekte-sekte bahkan agama baru di tengah
umat Islam seperti Ahmadiyah dan Baha?i. Bahkan Muhammad bin Abdul
Wahab ini juga termasuk dalam target program kerja kaum kolonial dengan
alirannya Wahabi.
Mulanya Muhammad bin Abdul Wahab hidup di
lingkungan sunni pengikut madzhab Hanbali, bahkan ayahnya Syaikh Abdul
Wahab adalah seorang sunni yang baik, begitu pula guru-gurunya. Namun
sejak semula ayah dan guru-gurunya mempunyai firasat yang kurang baik
tentang dia bahwa dia akan sesat dan menyebarkan kesesatan. Bahkan
mereka menyuruh orang-orang untuk berhati-hati terhadapnya. Ternyata
tidak berselang lama firasat itu benar. Setelah hal itu terbukti ayahnya
pun menentang dan memberi peringatan khusus padanya. Bahkan kakak
kandungnya, Sulaiman bin Abdul Wahab, ulama? besar dari madzhab Hanbali,
menulis buku bantahan kepadanya dengan judul As-Sawa?iqul Ilahiyah Fir
Raddi Alal Wahabiyah. Tidak ketinggalan pula salah satu gurunya di
Madinah, Syekh Muhammad bin Sulaiman AI-Kurdi as-Syafi?i, menulis surat
berisi nasehat: ?Wahai Ibn Abdil Wahab, aku menasehatimu karena Allah,
tahanlah lisanmu dari mengkafirkan kaum muslimin, jika kau dengar
seseorang meyakini bahwa orang yang ditawassuli bisa memberi manfaat
tanpa kehendak Allah, maka ajarilah dia kebenaran dan terangkan dalilnya
bahwa selain Allah tidak bisa memberi manfaat maupun madharrat, kalau
dia menentang bolehlah dia kau anggap kafir, tapi tidak mungkin kau
mengkafirkan As-Sawadul A?dham (kelompok mayoritas) diantara kaum
muslimin, karena engkau menjauh dari kelompok terbesar, orang yang
menjauh dari kelompok terbesar lebih dekat dengan kekafiran, sebab dia
tidak mengikuti jalan muslimin?.
Sebagaimana diketahui bahwa
madzhab Ahlus Sunah sampai hari ini adalah kelompok terbesar. Allah
berfirman : ?Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas
kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang
mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah
dikuasainya itu (Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan) dan
kami masukkan ia ke dalam jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk
tempat kembali (QS: An-Nisa 115)
Salah satu dari ajaran yang
(diyakini oleh Muhammad bin Abdul Wahab, adalah mengkufurkan kaum muslim
sunni yang mengamalkan tawassul, ziarah kubur, maulid nabi, dan
lain-lain. Berbagai dalil akurat yang disampaikan ahlussunnah wal
jama?ah berkaitan dengan tawassul, ziarah kubur serta maulid, ditolak
tanpa alasan yang dapat diterima. Bahkan lebih dari itu, justru berbalik
mengkafirkan kaum muslimin sejak 600 tahun sebelumnya, termasuk
guru-gurunya sendiri.
Pada satu kesempatan seseorang bertanya
pada Muhammad bin Abdul Wahab, ?Berapa banyak Allah membebaskan orang
dari neraka pada bulan Ramadhan?? Dengan segera dia menjawab, ?Setiap
malam Allah membebaskan 100 ribu orang, dan di akhir malam Ramadhan
Allah membebaskan sebanyak hitungan orang yang telah dibebaskan dari
awal sampai akhir Ramadhan? Lelaki itu bertanya lagi ?Kalau begitu
pengikutmu tidak mencapai satu person pun dari jumlah tersebut, lalu
siapakah kaum muslimin yang dibebaskan Allah tersebut? Dari manakah
jumlah sebanyak itu? Sedangkan engkau membatasi bahwa hanya pengikutmu
saja yang muslim.? Mendengar jawaban itu Ibn Abdil Wahab pun terdiam
seribu bahasa. Sekalipun demikian Muhammad bin Abdul Wahab tidak
menggubris nasehat ayahnya dan guru-gurunya itu.
Dengan
berdalihkan pemurnian ajaran Islam, dia terus menyebarkan ajarannya di
sekitar wilayah Najed. Orang-orang yang pengetahuan agamanya minim
banyak yang terpengaruh. Termasuk diantara pengikutnya adalah penguasa
Dar?iyah, Muhammad bin Saud (meninggal tahun 1178 H / 1765 M) pendiri
dinasti Saudi, yang dikemudian hari menjadi mertuanya. Dia mendukung
secara penuh dan memanfaatkannya untuk memperluas wilayah kekuasaannya.
Ibn Saud sendiri sangat patuh pada perintah Muhammad bin Abdul Wahab.
Jika dia menyuruh untuk membunuh atau merampas harta seseorang dia
segera melaksanakannya dengan keyakinan bahwa kaum muslimin telah kafir
dan syirik selama 600 tahun lebih, dan membunuh orang musyrik dijamin
surga.
Sejak semula Muhammad bin Abdul Wahab sangat gemar
mempelajari sejarah nabi-nabi palsu, seperti Musailamah Al-Kadzdzab,
Aswad Al-Ansiy, Tulaihah Al-Asadiy dll. Agaknya dia punya keinginan
mengaku nabi, ini tampak sekali ketika ia menyebut para pengikut dari
daerahnya dengan julukan Al-Anshar, sedangkan pengikutnya dari luar
daerah dijuluki Al-Muhajirin. Kalau seseorang ingin menjadi pengikutnya,
dia harus mengucapkan dua syahadat di hadapannya kemudian harus
mengakui bahwa sebelum masuk Wahabi dirinya adalah musyrik, begitu pula
kedua orang tuanya. Dia juga diharuskan mengakui bahwa para ulama? besar
sebelumnya telah mati kafir. Kalau mau mengakui hal tersebut dia
diterima menjadi pengikutnya, kalau tidak dia pun langsung dibunuh.
Muhammad bin Abdul Wahab juga sering merendahkan Nabi SAW dengan dalih
pemurnian akidah, dia juga membiarkan para pengikutnya melecehkan Nabi
di hadapannya, sampai-sampai seorang pengikutnya berkata : ?Tongkatku
ini masih lebih baik dari Muhammad, karena tongkat-ku masih bisa
digunakan membunuh ular, sedangkan Muhammad telah mati dan tidak tersisa
manfaatnya sama sekali. Muhammad bin Abdul Wahab di hadapan pengikutnya
tak ubahnya seperti Nabi di hadapan umatnya. Pengikutnya semakin banyak
dan wilayah kekuasaan semakin luas. Keduanya bekerja sama untuk
memberantas tradisi yang dianggapnya keliru dalam masyarakat Arab,
seperti tawassul, ziarah kubur, peringatan Maulid dan sebagainya. Tak
mengherankan bila para pengikut Muhammad bin Abdul Wahab lantas
menyerang makam-makam yang mulia. Bahkan, pada 1802, mereka menyerang
Karbala-Irak, tempat dikebumikan jasad cucu Nabi Muhammad SAW, Husein
bin Ali bin Abi Thalib. Karena makam tersebut dianggap tempat munkar
yang berpotensi syirik kepada Allah. Dua tahun kemudian, mereka
menyerang Madinah, menghancurkan kubah yang ada di atas kuburan,
menjarah hiasan-hiasan yang ada di Hujrah Nabi Muhammad.
Keberhasilan menaklukkan Madinah berlanjut. Mereka masuk ke Mekkah pada
1806, dan merusak kiswah, kain penutup Ka?bah yang terbuat dari sutra.
Kemudian merobohkan puluhan kubah di Ma?la, termasuk kubah tempat
kelahiran Nabi SAW, tempat kelahiran Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina
Ali, juga kubah Sayyidatuna Khadijah, masjid Abdullah bin Abbas. Mereka
terus menghancurkan masjid-masjid dan tempat-tempat kaum solihin sambil
bersorak-sorai, menyanyi dan diiringi tabuhan kendang. Mereka juga
mencaci-maki ahli kubur bahkan sebagian mereka kencing di kubur kaum
solihin tersebut. Gerakan kaum Wahabi ini membuat Sultan Mahmud II,
penguasa Kerajaan Usmani, Istanbul-Turki, murka. Dikirimlah prajuritnya
yang bermarkas di Mesir, di bawah pimpinan Muhammad Ali, untuk
melumpuhkannya. Pada 1813, Madinah dan Mekkah bisa direbut kembali.
Gerakan Wahabi surut. Tapi, pada awal abad ke-20, Abdul Aziz bin Sa?ud
bangkit kembali mengusung paham Wahabi. Tahun 1924, ia berhasil
menduduki Mekkah, lalu ke Madinah dan Jeddah, memanfaatkan kelemahan
Turki akibat kekalahannya dalam Perang Dunia I. Sejak itu, hingga kini,
paham Wahabi mengendalikan pemerintahan di Arab Saudi. Dewasa ini
pengaruh gerakan Wahabi bersifat global. Riyadh mengeluarkan jutaan
dolar AS setiap tahun untuk menyebarkan ideologi Wahabi. Sejak hadirnya
Wahabi, dunia Islam tidak pernah tenang penuh dengan pergolakan
pemikiran, sebab kelompok ekstrem itu selalu menghalau pemikiran dan
pemahaman agama Sunni-Syafi?i yang sudah mapan.
Kekejaman dan
kejahilan Wahabi lainnya adalah meruntuhkan kubah-kubah di atas makam
sahabat-sahabat Nabi SAW yang berada di Ma?la (Mekkah), di Baqi? dan
Uhud (Madinah) semuanya diruntuhkan dan diratakan dengan tanah dengan
mengunakan dinamit penghancur. Demikian juga kubah di atas tanah Nabi
SAW dilahirkan, yaitu di Suq al Leil diratakan dengan tanah dengan
menggunakan dinamit dan dijadikan tempat parkir onta, namun karena
gencarnya desakan kaum Muslimin International maka dibangun
perpustakaan. Kaum Wahabi benar-benar tidak pernah menghargai
peninggalan sejarah dan menghormati nilai-nilai luhur Islam. Semula
AI-Qubbatul Khadra (kubah hijau) tempat Nabi Muhammad SAW dimakamkan
juga akan dihancurkan dan diratakan dengan tanah tapi karena ancaman
International maka orang-orang biadab itu menjadi takut dan mengurungkan
niatnya. Begitu pula seluruh rangkaian yang menjadi manasik haji akan
dimodifikasi termasuk maqom Ibrahim akan digeser tapi karena banyak yang
menentangnya maka diurungkan.
Pengembangan kota suci Makkah
dan Madinah akhir-akhir ini tidak mempedulikan situs-situs sejarah
Islam. Makin habis saja bangunan yang menjadi saksi sejarah Rasulullah
SAW dan sahabatnya. Bangunan itu dibongkar karena khawatir dijadikan
tempat keramat. Bahkan sekarang, tempat kelahiran Nabi SAW terancam akan
dibongkar untuk perluasan tempat parkir. Sebelumnya, rumah Rasulullah
pun sudah lebih dulu digusur. Padahal, disitulah Rasulullah
berulang-ulang menerima wahyu. Di tempat itu juga putra-putrinya
dilahirkan serta Khadijah meninggal.
Islam dengan tafsiran kaku
yang dipraktikkan wahabisme paling punya andil dalam pemusnahan ini.
Kaum Wahabi memandang situs-situs sejarah itu bisa mengarah kepada
pemujaan berhala baru. Pada bulan Juli yang lalu, Sami Angawi, pakar
arsitektur Islam di wilayah tersebut mengatakan bahwa beberapa bangunan
dari era Islam kuno terancam musnah. Pada lokasi bangunan berumur 1.400
tahun Itu akan dibangun jalan menuju menara tinggi yang menjadi tujuan
ziarah jamaah haji dan umrah.
?Saat ini kita tengah menyaksikan
saat-saat terakhir sejarah Makkah. Bagian bersejarahnya akan segera
diratakan untuk dibangun tempat parkir,? katanya kepada Reuters. Angawi
menyebut setidaknya 300 bangunan bersejarah di Makkah dan Madinah
dimusnahkan selama 50 tahun terakhir. Bahkan sebagian besar bangunan
bersejarah Islam telah punah semenjak Arab Saudi berdiri pada 1932. Hal
tersebut berhubungan dengan maklumat yang dikeluarkan Dewan Keagamaan
Senior Kerajaan pada tahun 1994. Dalam maklumat tersebut tertulis,
?Pelestarian bangunan bangunan bersejarah berpotensi menggiring umat
Muslim pada penyembahan berhala.?
Nasib situs bersejarah Islam
di Arab Saudi memang sangat menyedihkan. Mereka banyak menghancurkan
peninggalan-peninggalan Islam sejak masa Ar-Rasul SAW. Semua jejak jerih
payah Rasulullah itu habis oleh modernisasi ala Wahabi. Sebaliknya
mereka malah mendatangkan para arkeolog (ahli purbakala) dari seluruh
dunia dengan biaya ratusan juta dollar untuk menggali
peninggalan-peninggalan sebelum Islam baik yang dari kaum jahiliyah
maupun sebelumnya dengan dalih obyek wisata. Kemudian dengan bangga
mereka menunjukkan bahwa zaman pra Islam telah menunjukkan kemajuan yang
luar biasa, tidak diragukan lagi ini merupakan pelenyapan bukti sejarah
yang akan menimbulkan suatu keraguan di kemudian hari.
Gerakan
wahabi dimotori oleh para juru dakwah yang radikal dan ekstrim, mereka
menebarkan kebencian permusuhan dan didukung oleh keuangan yang cukup
besar. Mereka gemar menuduh golongan Islam yang tak sejalan dengan
mereka dengan tuduhan kafir, syirik dan ahli bid?ah. Itulah ucapan yang
selalu didengungkan di setiap kesempatan, mereka tak pernah mengakui
jasa para ulama Islam manapun kecuali kelompok mereka sendiri. Di negeri
kita ini mereka menaruh dendam dan kebencian mendalam kepada para Wali
Songo yang menyebarkan dan meng-Islam-kan penduduk negeri ini.
Mereka mengatakan ajaran para wali itu masih kecampuran kemusyrikan
Hindu dan Budha, padahal para Wali itu telah meng-Islam-kan 90 %
penduduk negeri ini. Mampukah wahabi-wahabi itu meng-Islam-kan yang 10%
sisanya? Mempertahankan yang 90 % dari terkaman orang kafir saja tak
bakal mampu, apalagi mau menambah 10 % sisanya. Justru mereka dengan
mudahnya mengkafirkan orang-orang yang dengan nyata bertauhid kepada
Allah SWT. Jika bukan karena Rahmat Allah yang mentakdirkan para Wali
Songo untuk berdakwah ke negeri kita ini, tentu orang-orang yang menjadi
corong kaum wahabi itu masih berada dalam kepercayaan animisme,
penyembah berhala atau masih kafir. (Naudzu billah min dzalik).
Oleh karena itu janganlah dipercaya kalau mereka mengaku-aku sebagai
faham yang hanya berpegang teguh pada Al-Qur?an dan As-Sunnah. Mereka
berdalih mengikuti keteladanan kaum salaf apalagi mengaku sebagai
golongan yang selamat dan sebagainya, itu semua omong kosong belaka.
Mereka telah menorehkan catatan hitam dalam sejarah dengan membantai
ribuan orang di Makkah dan Madinah serta daerah lain di wilayah Hijaz
(yang sekarang dinamakan Saudi). Tidakkah anda ketahui bahwa yang
terbantai waktu itu terdiri dari para ulama yang sholeh dan alim, bahkan
anak-anak serta balita pun mereka bantai di hadapan ibunya. Tragedi
berdarah ini terjadi sekitar tahun 1805. Semua itu mereka lakukan dengan
dalih memberantas bid?ah, padahal bukankah nama Saudi sendiri adalah
suatu nama bid?ah? Karena nama negeri Rasulullah SAW diganti dengan nama
satu keluarga kerajaan pendukung faham wahabi yaitu As-Sa?ud.
Sungguh Nabi SAW telah memberitakan akan datangnya Faham Wahabi ini
dalam beberapa hadits, ini merupakan tanda kenabian beliau SAW dalam
memberitakan sesuatu yang belum terjadi. Seluruh hadits-hadits ini
adalah shahih, sebagaimana terdapat dalam kitab shahih BUKHARI &
MUSLIM dan lainnya. Diantaranya: ?Fitnah itu datangnya dari sana, fitnah
itu datangnya dari arah sana,? sambil menunjuk ke arah timur (Najed).
(HR. Muslim dalam Kitabul Fitan)
?Akan keluar dari arah timur
segolongan manusia yang membaca Al-Qur?an namun tidak sampai melewati
kerongkongan mereka (tidak sampai ke hati), mereka keluar dari agama
seperti anak panah keluar dari busurnya, mereka tidak akan bisa kembali
seperti anak panah yang tak akan kembali ketempatnya, tanda-tanda mereka
ialah bercukur (Gundul).? (HR Bukho-ri no 7123, Juz 6 hal 20748). Hadis
ini juga diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud, dan Ibnu Hibban
Nabi SAW pernah berdo?a: ?Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara
Syam dan Yaman,? Para sahabat berkata: Dan dari Najed, wahai Rasulullah,
beliau berdo?a: Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara Syam dan
Yaman, dan pada yang ketiga kalinya beliau SAW bersabda: ?Di sana
(Najed) akan ada keguncangan fitnah serta di sana pula akan muncul
tanduk syaitan.?, Dalam riwayat lain dua tanduk syaitan.
Dalam
hadits-hadits tersebut dijelaskan, bahwa tanda-tanda mereka adalah
bercukur (gundul). Dan ini adalah merupakan nash yang jelas ditujukan
kepada para penganut Muhammad bin Abdul Wahab, karena dia telah
memerintahkan setiap pengikutnya mencukur rambut kepalanya hingga mereka
yang mengikuti tidak diperbolehkan berpaling dari majlisnya sebelum
bercukur gundul. Hal seperti ini tidak pernah terjadi pada aliran-aliran
sesat lain sebelumnya. Seperti yang telah dikatakan oleh Sayyid
Abdurrahman Al-Ahdal: ?Tidak perlu kita menulis buku untuk menolak
Muhammad bin Abdul Wahab, karena sudah cukup ditolak oleh hadits-hadits
Rasulullah SAW itu sendiri yang telah menegaskan bahwa tanda-tanda
mereka adalah bercukur (gundul), karena ahli bid?ah sebelumnya tidak
pernah berbuat demikian?. Al-Allamah Sayyid AIwi bin Ahmad bin Hasan bin
Al-Quthub Abdullah AI-Haddad menyebutkan dalam kitabnya Jala?udz Dzolam
sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abbas bin Abdul Muthalib dari Nabi
SAW: ?Akan keluar di abad kedua belas nanti di lembah BANY HANIFAH
seorang lelaki, yang tingkahnya bagaikan sapi jantan (sombong), lidahnya
selalu menjilat bibirnya yang besar, pada zaman itu banyak terjadi
kekacauan, mereka menghalalkan harta kaum muslimin, diambil untuk
berdagang dan menghalalkan darah kaum muslimin?? AI-Hadits.
BANY HANIFAH adalah kaum nabi palsu Musailamah Al-Kadzdzab dan Muhammad
bin Saud. Kemudian dalam kitab tersebut Sayyid AIwi menyebutkan bahwa
orang yang tertipu ini tiada lain ialah Muhammad bin Abdul Wahab. Adapun
mengenai sabda Nabi SAW yang mengisyaratkan bahwa akan ada keguncangan
dari arah timur (Najed) dan dua tanduk setan, sebagian, ulama mengatakan
bahwa yang dimaksud dengan dua tanduk setan itu tiada lain adalah
Musailamah Al-Kadzdzab dan Muhammad Ibn Abdil Wahab.
Pendiri ajaran
wahabiyah ini meninggal tahun 1206 H / 1792 M, seorang ulama? mencatat
tahunnya dengan hitungan Abjad: ?Ba daa halaakul khobiits? (Telah nyata
kebinasaan Orang yang Keji)
Langganan:
Postingan (Atom)